Wahai Dzat yang maha hidup

Ya Hayyu ya Qayyum birahmatika astaghits
Ya Hayyu ya Qayyum birahmatika astaghits
Ya Hayyu ya Qayyum birahmatika astaghits

Aslih sya’ni kullahu wa la takilni ila nafsi tharfata ‘ainin

(Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Mengurus hamba-Nya… perbaikilah semua urusanku dan janganlah Engkau serahkan urusanku pada diri ini meski hanya sekejap mata

Iklan

-ketika dia meminta ku menunggu-

aku .. terbenam dalam peluh ..disibuknya waktu ..yg menjadi rutinitas keseharian ku- ngantor- , hingga tiba tiba sebuah tanya itu datang ,tanpa duga dan tanpa sangka tentang sebuah pinta ..” mau kah kau menunggu ku ? ” saat itu yang ku tahu lidah ku hanya membisu dan lirih tanpa sadar ku sebut nama Nya dalam jengkal yang mendera….” Allah” , dan aku pun hanya terpaku tentang suatu ajakan yang bukan main main menurutku..diujung lidah akhirnya ku beranikan lidah ini berkata ” beri aku seminggu untuk menjawab itu ” dan aku pun berlalu diantara dera laju deadline dan prioritas project kerjaan ku menata schedule Singapore – saliki , kalimantan dan..!@##$%^ seakan waktu menggeser semua itu …

hingga diujung sore aku tersadar tentang satu pinta yang harus ku jawab segera …ISTIKHARAH ….

Diantara biduk waktu // Jakarta //28 Nov 2007

baca Al quran saja

Baca Qur’an Saja,
Ketika kita merasa jenuh
Baca Qur’an saja, bisa hilang jenuhnya
Ketika kita merasa sepi
Baca Qur’an saja, bisa hilang rasa sepinya
Ketika kita tak bergairah
Baca Qur’an saja, bisa semangat lagi
Ketika segala sesuatu terasa membosankan
Baca Qur’an saja, bisa jadi lain
Ketika kita kebingungan memutuskan sesuatu
Baca Qur’an saja, bisa lebih tenang
Ketika banyak ketidaknyamanan dalam hati kita rasakan
Baca Qur’an saja, beda rasanya…
Baca Qur’an saja bisa merubah semuanya
Bisa buat diri jadi lebih baik
Bisa buat diri jadi yang terbaik
Bisa menghantarkan diri ke kebaikan
Baca Qur’an saja sudah begitu berarti
Belum menghapalkannya
Apalagi mengamalkannya
Subhanallah…!

Sabar dan Shalat, Sebuah Harmoni

Sabar dan Shalat, Sebuah Harmoni

Alloh SWT berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS Al
Baqarah [2]: 153).

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. sabar “.(QS Al
Baqarah [2]: 155).

Shalatlah kamu sebagaimana kamu lihat aku shalat”. Demikian sabda
Rasulullah SAW. Hadis ini menunjukkan betapa penting dan strategisnya
peranan shalat bagi seorang Muslim, sampai detail gerakan dan bacaannya
dicontohkan langsung oleh beliau.

Sejatinya, shalat adalah ibadah paripurna yang memadukan olah pikir,
olah gerak, dan olah rasa (sensibilitas). Ketiganya terpadu secara
cantik dan selaras. Kontemplasi dan riyadhah yang terintegrasi sempurna,
saling melengkapi dari dimensi perilaku/lisan (al bayan), respons
motorik, rasionalitas (menempatkan diri secara proporsional), dan
kepekaan terhadap jati diri–kepekaan dan kehalusan untuk merasakan
cinta dan kasih sayang Allah SWT.

Yang menarik, Alquran kerap menggandengkan ritual shalat dengan sikap
sabar. Salah satunya dalam QS Al Baqarah [2] ayat 153, Hai orang-orang
yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Mengapa Sabar dan Shalat?
Secara etimologi, sabar (ash shabr) dapat diartikan dengan “menahan” (al
habs). Dari sini sabar dimaknai sebagai upaya menahan diri dalam
melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridha Allah.
Difirmankan, Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan
Rabb-nya (QS Ar Ra’d [13]:22),

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya,
mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan
kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak
kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat
kesudahan (yang baik),

Sabar termasuk kata yang banyak disebutkan Alquran. Jumlahnya lebih dari
seratus kali. Tidak mengherankan, karena sabar adalah poros sekaligus
asas segala macam kemuliaan akhlak. Muhammad Al Khudhairi mengungkapkan
bahwa saat kita menelusuri kebaikan serta keutamaan, maka kita akan
menemukan bahwa sabar selalu menjadi asas dan landasannya. ‘Iffah
[menjaga kesucian diri] misalnya, adalah bentuk kesabaran dalam menahan
diri dari memperturutkan syahwat. Syukur adalah bentuk kesabaran untuk
tidak mengingkari nikmat yang telah Allah karuniakan. Qana’ah [merasa
cukup dengan apa yang ada] adalah sabar dengan menahan diri dari
angan-angan dan keserakahan. Hilm [lemah-lembut] adalah kesabaran dalam
menahan dan mengendalikan amarah. Pemaaf adalah sabar untuk tidak
membalas dendam. Demikian pula akhlak-akhlak mulia lainnya. Semuanya
saling berkaitan. Faktor-faktor pengukuh agama semuanya bersumbu pada
kesabaran, hanya nama dan jenisnya saja yang berbeda.

Cakupan sabar ternyata sangat luas. Tak heran jika sabar bernilai
setengah keimanan. Sabar ini terbagi ke dalam tiga tingkatan. Pertama,
sabar dalam menghadapi sesuatu yang menyakitkan, seperti musibah,
bencana atau kesusahan. Kedua, sabar dalam meninggalkan perbuatan
maksiat. Ketiga, sabar dalam menjalankan ketaatan.

Tidak berputus asa saat menghadapi hal yang tidak mengenakan merupakan
tingkat terendah dari kesabaran. Satu tingkat di atasnya adalah sabar
untuk menjauhi maksiat serta sabar dalam berbuat taat. Mengapa demikian?
Sabar menghadapi musibah sifatnya idhthirari alias tidak bisa dihindari.
Pada saat ditimpa musibah, seseorang tdak memiliki pilihan kecuali
menerima cobaan tersebut dengan sabar. Tidak sabar pun musibah tetap
terjadi. Lain halnya dengan sabar menjauhi maksiat dan melaksanaan taat,
keduanya bersifat ikhtiari atau bisa dihindari. Di sini manusia
“berkuasa” melakukan pilihan, bisa melakukan bisa pula tidak. Biasanya
ini lebih sulit.

Secara psikologis kita bisa memaknai sabar sebagai sebuah kemampuan
untuk menerima, mengolah, dan menyikapi kenyataan. Dengan kata lain,
sabar adalah upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau
meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridha Allah. Difirmankan, Dan
orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabb-nya (QS Ar Ra’d
[13]: 22).

Jiwa yang Tenang
Salah satu ciri orang sabar adalah mampu menempatkan diri dan bersikap
optimal dalam setiap keadaan. Sabar bukanlah sebuah bentuk keputusasaan,
melainkan optimisme yang terukur. Ketika menghadapi situasi di mana kita
harus “marah” misalnya, maka marahlah secara bijak serta diniatkan untuk
mendapatkan kebaikan bersama. Karena itu, mekanisme sabar dapat
melembutkan hati, menghantarkan sebuah kemenangan yang manis atas
dorongan syaithaniyah untuk menuruti ketidakseimbangan pemuasan hawa
nafsu.

Dalam shalat dan sabar terintegrasi proses latihan yang meletakkan
kendali diri secara proporsional, mulai dari gerakan (kecerdasan
motorik), inderawi (kecerdasan sensibilitas), aql, dan pengelolaan nafs
menjadi motivasi yang bersifat muthma’innah. Jiwa muthma’innah atau jiwa
yang tenang inilah yang akan memiliki karakteristik malakut untuk
mengekspresikan nilai-nilai kebenaran absolut. Hai jiwa yang tenang
(nafs yang muthmainah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang
bening dalam ridha-Nya(QS Al Fajr [89]: 27-28).

27. Wahai jiwa yang tenang 28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati
yang puas lagi diridhai-Nya.

Orang-orang yang memiliki jiwa muthma’innah akan mampu mengaplikasikan
nilai-nilai shalat dalam kesehariannya. Sebuah nilai yang didominasi
kesabaran paripurna. Praktiknya tercermin dari sikap penuh syukur,
pemaaf, lemah lembut, penyayang, tawakal, merasa cukup dengan yang ada,
pandai menjaga kesucian diri, serta konsisten.

Tak heran bila Rasulullah SAW dan para sahabat menjadikan shalat sebagai
istirahat, sebagai sarana pembelajaran, pembangkit energi, sumber
kekuatan, dan pemandu meraih kemenangan. Ketika mendapat rezeki
berlimpah, shalatlah ungkapan kesyukurannya. Ketika beban hidup semakin
berat, shalatlah yang meringankannya. Ketika rasa cemas membelenggu,
shalatlah pelepasannya. Khubaib bin Adi dapat kita jadikan teladan. Saat
menghadapi dieksekusi mati di tiang gantungan, Abu Sufyan memberinya
kesempatan untuk mengatakan keinginan terakhirnya. Apa yang ia minta?
Khubaib minta shalat. Permintaan itu dikabulkan.

Dengan khusyuk ia shalat dua rakaat. “Andai saja aku tidak ingin
dianggap takut dan mengulur-ulur waktu, niscaya akan kuperpanjang lagi
shalatku ini!” ungkap Khubaib saat itu.

Ya, shalat yang baik akan menghasilkan kemampuan bersabar. Sebaliknya
kesabaran yang baik akan menghasilkan shalat yang berkualitas. Ciri
shalat berkualitas adalah terjadinya dialog dengan Allah sehingga
melahirkan ketenangan dan kedamaian di hati. Komunikasi dengan Allah
tidak didasari “titipan” kepentingan. Dengan terbebas dari gangguan
“kepentingan” tersebut, insya Allah shalat kita akan mencapai derajat
komunikasi tertinggi. Siapa pun yang mampu merasakan nikmatnya berdialog
dengan Allah SWT, hingga berbuah pengalaman spiritual yang dalam,
niscaya ia tidak akan sekali melalaikan shalat. Ia rela kehilangan apa
pun, asal tidak kehilangan shalat. Jika sudah demikian, pertolongan
Allah pasti akan datang. Wallaahu a’lam

Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana – Semoga bermanfaat

Laksanakan selalu 7 Sunnah harian : Sholat Tahajjud, Membaca Al Qur’an;
Subuh di Masjid, Istighfar; Sholat Dhuha, Bersedekah, Jaga Wudhu terus
menerus

AIRMATA RASULULLAH SAW…

AIRMATA RASULULLAH SAW…

sepertinya nggak akan pernah bosan-bosan kalau
membaca yg satu ini…
untuk mengingatkan kita… akan keteladanan Rasulullah

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya.

Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya
Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah
menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah erfirman
kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalama,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis-shalaati, wa maa malakat aimaanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii!” – “Umatku, umatku, umatku”

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad wa baarik wa sallim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

-Allahumma shollia alla saidina muhammad –

Kultum mbak dilla,X Bata , 10 Nov 2007

BEYONCE DI JAKARTA …kebanggaan atau kemerosotan akhlak

BEYONCE DI JAKARTA ..kebanggan atau kemerosotan akhlak

Belum genap 1 bulan kita memaknai Arti kemenangan untuk ibadah ibadah kita kita dibulan Ramadhan , belum kering ucapan maaf dari bibir basah dengan dzikir, belumlah selesai puasa Sunah di bulan Syawal ..tetapi mengapa sudah ada kemerosotan iman dimasyarakat kita, masyarakat Jakarta ..kemana pakaian suci penutup aurat , berlabael busana muslim yang menghiasi dilembaran2 bulan Ramadhan dan Syawal , kemanakah orang orang yang berduyun mendatangi mesjid dikala Ramadhan , kemanakah kau habiskan hartamu setelah Ramadhan bergulir ..kemana kah ….

Aku trenyuh kenapa bangsa kita terus menerus di rundung bahaya dan bencana, belum lah selesai penanganana kasus Lumpur Lapindo, korban Tsunami Aceh yang masih terlunta lunta, Gempa Jogya yg masih syata pemulihan disusul maraknya kasus Narkoba, ditambah deretan Gempa yang tak selesai reda didataran Sumatra , belumlagi harga minyak bumi dunia yang naik ..dan kita belum apa kita akan kena imbasnya , banyak orang yang jatuh miskin , gelandangan yang memenuhi negri ini , belumlah selesai kasus aliran aliran islam baru ang menyusup di masyarakat Indonesia ..semakin besar Tanya ku ada apa dengan bangsa ini … ?!!!!

Belum lagi pagi ini aku dikejutkan dengan cover depan sebuah surat kabar harian terbit Jakarta 2 November 2007 Beyonce knowie menggoyang Jakarta, seakan ibukota bangga kedatangan orang Asing dengan busana yang tak lebih hanya sebagai tempelan belaka , apakah itu adalah suatu kebanggaan untuk Indonesia , apakah acungan jempol karena kita berhasil mendatangkan seseorang amerika …Astagfirullah , mau dibawa anak cucu kita , mau dibawa kemana generasi islam kita , bila tontonan tersebut adalah budaya adalah kebanggaan. …!@#$%$^&&* masih banyak deretan kata yg ingin ku rajut namun … semua tersekat ( terjepit semua kata2 dalam bait2 doa …Luruh peluh ).

Kemanakah ???!!!!!

Ya Robb,

Lindungilah kami , jauhkan kami dari segala yang dapat menjauhkan kecintaan diri kami dari ..Mu ?!!! amien

21 Syawal 1428 H

Sejenak Renungan

Ditengah sibuk nya pagi dan deadline hari ini

(Pak Piet & Stw , i promise i finish today ..hehehe)