sebuah cerita diujung 2007

Sabtu, 29.12.2007

05.00 …

suasana rumah sudah “ribut” ..maklum hari ini adeku Wisuda ..walau segala persiapan dari malam sudah dikerjakan.. mulai dari ..telpon salon ( Ibu Reno, utk tata rias yang “ok ” menurut dia .. ga mau pake konde lah , ga mau pake bulu mata palsu lah..ck ckc ck ribet ya , oh ya make up jangan terlalu tebel lah n sederetan comment lain ) , trus telpon tk jahitnya( Ibu Amien pas fitting kemaren ..lengannya kekecilan .& yg lebih mendebarkan malam itu .. jahitan blm selesai dan daerah tempat yang tk jahit berada sedang mati lampu ..jadi Baju blom di setrika ..!@#$%^&* ) dan aktivitas telpon tmn2 nya .. (untuk janjian bsk ketemu dimana , bawa kamera or enggak, bawa kipas ga , n bla bla bala walhasil berisik hpnya dan telpon rumah terus berdering ( ya ga jauh dari wartel ). dan Pagi itu setelah adzan subuh berkumandang dan menunaikan shalat shubuh, dering telpon menggema lagi …KRINGGGGGGGGGGGGGG..oh ternyata tetangga ku bermaskud mengantarkan adeku bergerilya shubuh2 ke Tk Salon .. dan Allhamdulillahnya pagi itu Listrik dah nyala so ..Aktivitas Salon dan Tukang Jahit dapat berjalan ..sesuai keinginan

( to be continue . my friend remind me to go )

anyway .. happy new coming year 2008 … wish you all the best in 2008

Bertahanlah tubuh ku ….

Rasa sakit ini masih mendera, sisa sakit kemaren masih meninggalkan rasa sakit disekujur badan , sedikit nekat aku berangkat ke kantor hujan angin jakarta pagi ini ..sempat membuat ku limbung diterkam sayapnya ..!@#$%^& bertahanlah tubuh ku ..aku coba menepis dengan sisa2 peluh kekuatana yang tersisa ..dingin menembus jacket kulit ku ..angin menyibak- nyibak harum jilbab ku …..

Ya Robb ,,Allahumma inn fii badani, Allahumma inni fi samii, Allahumma inni fii bashari Jumat

Jumat terkahir ditahun 2007

keep optimis

oh senangnya dpt buku gratis :)

Pagi2 dikantor aku dikagetkan dengan pengumuman di kick andy – sebuah acara talk show yang digelar Metro Tv KAmis pukul 22.00 sd 23.00 dan siaran ulangnya pada hari ahad pukul 15.00

Allhamdulillah namaku masuk dalam daftar pemenang buku Kick Andy yang waktu itu mengetengahkan Topik “AA Gym menjawab”. Wah sempat kaget juga ya .. dan bersyukur soalnya ga nyangka .

Sejauh ini aku belum menghubungipihak kick andy perihal pemenang buku tersebut .. jadi inget beberapa bulan yang lalu aku pernah dapat bukunya dari portal infaq yang pernah ngadain even di wisma telkomsel di kuningaan

Allhamdulillah bertambah lagi koleksi perpustakaan rumah ku J

Untuk Kick Andy – Metro TV Crew ..thanks a lot terus berkarya membangun Indonesia

Binar Bahagia

Sambas – 6 Des 07 –

Membaca hatimu, ku tahu pasti ada binar bahagia disana

menelusup bersama rangakaian indah Doa dan Syukur mu pada Nya

Menatap cantikmu ..ku tahu saat itu tinggal hitungan waktu

Sabarlah Teman ku , teruslah bermunajat untuk sampai tiba di detik itu

Kemilau warna pelangi, sesejuk dan selembut embun surgawi

merangkum saat saat terindah bagi insan terkasih menjalin ikatan suci

menggenapkan separuh agama dalam balutan pernikahan

mengharap Ridho Ilahi , menata kehidupan dalam bingkai Sakinah Ma waddah wa rahmah

Dialah kuntum melati , dari sujud2 panjang mu selama ini , Dialah pangeran pilihan untuk mu sebgai teman untuk mengarungi perjalanan hidup baru Mu, Dialah yang terbaik menurut Allah utuk menjadi pendampingmu ….

Utk mbak Yudith,

after i see ur site

“Barakallaahu laka wabaraka ‘alaika wajama’a baynakuma fi khaiir”

YANG LALU BIAR BERLALU

YANG LALU BIAR BERLALU

Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan

kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad, dan mengubur masa depan yang belum terjadi.

Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak

pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ruang penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam penjara pengacuhan selamanya, atau diletakkan di dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, keresahan tak akan sanggup memperbaikinya kembali, kegundahan tidak akan mampu merubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.

Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau di bawah payung gelap masa silam, selamatkan diri Anda dari bayangan masa lampau! Adakah Anda ingin mengembalikan air sungai ke hulu, air susu ke payudara ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata? Ingat keterikatan Anda dengan masa lalu, keresahan Anda atas apa yang telah terjadi padanya, keterbakarann emosi jiwa Anda oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa Anda pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naïf, ironis, memprihatikan, dan sekaligus menakutkan.

Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan,

mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang demikian sangat

brharga. Dalam Al-Qur’an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan, “Itu adalah umat yang lalu.” Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.

Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang yang

menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu. Syahdan, nenek moyang kita dahulu selalu mengingatkan orang yang meratapi masa lalunya demikan :” Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat itu dari kuburnya”. Dan konon kata orang yang mengerti bahasa binatang, sekawanan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini :”Mengapa engkau tidak menarik gerobak?” “Aku benci khayalan,” jawab keledai.

Adalah bencana besar manakala kita rela mengabaikan masa depan dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. Padahal betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengemb
alikan semua
hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab yang demikian itu sudah mustahil pada asalnya.

Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melihat dan sedikit pun

menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air

akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala

sesuatu bergerak maju ke depan. Maka dari itu, janganlah pernah melawan

sunnah kehidupan.

Sumber : La Thazan oleh Dr. ‘Aidh Al-qarni

Allah, Beri Kami Surga Kecil

Allah, Beri Kami Surga Kecil

Allah, beri kami surga kecil Rumah syhadu berhias rahmah Di sana tergelar helai-helai sajadah Tempat kami berpinta dan bermunajah

Allah beri kami surga kecil,

Istana mungil bertahta sakinah Tempat kami berteduh melepas lelah Ranjang kokoh bertabur berkah Tempat malam-malam kami dipeluk mimpi indah

Kenapa tidak punya mobil ??

Kenapa Tidak Punya Mobil?

Tampang bingung. Itulah gambaran yang bisa dilukiskan di wajah seorang bocah 6 tahun, saat melihat lalu-lalangnya kendaraan di jalan. Bocah itu seakan tidak memperdulikan hilir mudik orang- orang yang melaluinya bahkan ada beberapa orang yang hampir menendangnya. Dia pun seakan tidak senang saat beberapa orang yang lewat memasukan uang receh ke dalam kaleng yang sengaja di simpan di depannya.

“Sudah dapat berapa Ujang?” sapa seorang wanita umur 40 tahunan yang mengagetkan si Ujang. Si Ujang menengok wanita yang nampak lebih tua dari umur sebenarnya. Wanita itu tiada lain adalah ibunya yang sama-sama membuka praktek mengemis sekitar 100-200 meter dari tempat si Ujang mengemis.

“Nggak tahu Mak, hitung aja sendiri,” jawab si Ujang sambil melihat kaleng yang ada di depannya. Tanpa menunggu wanita yang dipanggil Emak itu mengambil kaleng yang ada di depan si Ujang. Kemudian isi kaleng tersebut ditumpahkan ke atas kertas koran yang menjadi alas mereka duduk.

“Lumayan Ujang, bisa membeli nasi malam ini. Sisanya buat membeli kupat tahu besok pagi.” Kata si Emak sambil tersenyum lebar, karena rezeki malam itu lebih banyak dari hari-hari biasanya.

“Mak…” kata si Ujang tanpa menghiraukan ucapan ibunya, “koq orang lain punya mobil? Kenapa Emak nggak punya?” Tanya si Ujang sambil menatap wajah ibunya.

“Ah, si Ujang mah, aya-aya wae, boro-boro punya mobil, saung aja kita mah nggak punya.” kata si Emak sambil tersenyum. Si Emak kemudian membungkus uang yang telah dipisahkannya untuk besok dengan sapu tangan yang sudah lusuh dan dekil.

“Iya, tapi kenapa Mak?” Rupanya jawaban si Emak tidak memuaskan si Ujang.

“Ujang …. Ujang….” kata si Emak sambil tersenyum. “Kita tidak punya uang banyak untuk membeli mobil.” kata si Emak mencoba menjelaskan. Tetapi nampaknya si Ujang belum puas juga,

“Kenapa kita tidak punya uang banyak Mak?” tanyanya sambil melirik si Emak.

“Kitakan cuma pengemis, kalau orang lain mah kerja kantoran jadi uangnya banyak.” kata si Emak yang nampak akan beranjak. Seperti biasa sehabis matahari tenggelam si Emak membeli nasi dengan porsi agak banyak dengan 3 potong tempe atau tahu. Satu potong untuk si Emak sedangkan 2 potong untuk si Ujang anak semata wayangnya.

Sekembali membeli nasi, si Ujang masih menyimpan pertanyaan. Raut wajah si Ujang masih nampak bingung.

“Ada apa lagi Ujang?” kata si Emak sambil menyeka keringat di keningnya.

“Kenapa Emak nggak kerja kantoran saja?” tanya si Ujang dengan polosnya.

“Siapa yang mau ngasih kerjaan ke Emak, Emak mah orang bodoh, tidak sekolah.” Jawab si Emak sambil membuka bungkusan yang dibawanya.

“Udah …, sekarang makan dulu mumpung masih hangat!” Kata si Emak sambil mendekatkan nasi ke depan si Ujang. Si Ujang yang memang sudah lapar langsung menyantap makanan yang ada di depannya.

“Kenapa Emak nggak sekolah?” tanya si Ujang sambil mengunyah nasi plus tempe.

“Orang tua Emak nggak punya uang, jadi Emak nggak bisa sekolah.”

“Ujang bakal sekolah nggak?” kata si Ujang sambil menatap mata si Emak penuh harap.

Emak agak bingung menjawab pertanyaan si Ujang. Lamunan Emak menerawang mengingat kembali mendiang suaminya, yang telah mendahuluinya. Mata si Emak mulai berkaca-kaca. Karena gelapnya malam, si Ujang tidak melihat butiran bening yang mulai menuruni pipi wanita yang dipanggil Emak tersebut. Karena tak kunjung dijawab, si Ujang bertanya lagi

“Kalau Ujang nggak sekolah, nanti kayak Emak lagi dong. Iya kan Mak?”

Pertanyaan Ujang makin menyesakan dada si Emak. Siapa yang ingin punya anak menjadi pengemis, tetapi si Emak bingung harus berbuat apa. Si Emak cuma melanjutkan menghabiskan nasi sambil menahan tangisnya. Akhirnya si Ujang pun diam sambil mengunyah nasi yang tinggal sedikit lagi. Deru mesin mobil menemani dua insan di pinggir jalan yang sedang menikmati rezeki Allah SWT yang mereka dapatkan. Diterangi lampu jalan mereka pun mulai berbenah untuk merebahkan diri. Di kepala si Ujang masih penuh tanda tanya, mau jadi apa dia kelak. Apakah akan sama seperti Emaknya saat ini?