Rida dan Rita

Tak jarang dlm sebuah pergaulan dlm masyarakat kita menemukan orang2 luarbiasa yang menginspirasi hidup kita. Ya orang2 sederhana namun luarbiasa itu bagi ku seperti menemukan mutiara indah didalamnya samudera , Subhanallah.

Entah berapa kali dia lupa namaku, padahal setiap sabtu selama 3 bln berturut turut kami selalu bertemu dlm kelas yg sama, kelas sabtu pagi jam 6. Saat ku ulurkan tangan, dia hanya memandang dgn wajah tanya, seakan menunggu jawaban “ Rida” jawabku menyebut nama, dia pun tersenyum malu dan buru2 melepas tanganku “ Rita ”ujarnya menunduk dan mengalihkan pandangannya pada al quran kecilnya, terdengar lirih pelan suara nya mbaca quran saat aku beranjak meninggalkannya utk mencari tempat dudukku.

Dan sabtu berikutnya , saat aku terengah engah setelah melewati belasan anak tangga dan masuk ruangan kelas krn takut kesiangan , dia sudah ada disitu dipojok ruangan , asyik dgn qurannya menyendiri tanpa ada seorang pun yg menemani , saking asyiknya sampai2 ia tidak mengenali keberadaanku disisi kanannya, “Assalamualaikum “ Sapa ku mengulurkan tangan, namun dia masih asyik dgn Qurannya serasa tak bisa diusik, ku ulangi lagi “ Assalamualaikum , Rita ?” kepala sedikit mendekat kemudian dia mengangkat kepalanya perlahan dan menjawab “ walaikumsalam Mba Karin ya ? “ matanya tertuju pada ku meninggalkan kacamatanya yg tertinggal 2 cm diatas hidungnya “ Bukan, ini aku Rida, keliatan mirip ya sama Mba Karin, sama2 chubby ya ?“ kelakarku mencari sense humor nya namun tak diduga ekspresinya datar “ Oh, gitu ya, mmmh maaf ya Mba, ” sahutnya serius sedikit terbengong dan kembali mengalihkan pandangnya pada Quran kecil yg di sandang tangan kanan nya dan hanya berjarak sekitar 10 cm dari kacamata minus yg dipakainya .

Suasana sabtu pagi masih nampak sepi hanya ada 3 orang yg baru datang, aku sengaja duduk dan mbaca Quran dekat tempat Rita biasa duduk di pojok kelas, kali ini aku sengaja tdk menyapa nya seperti kemarin kemarin yg sering ku lakukan padanya, saat itu kupikir ah pasti dia sedang sibuk murojaah/mengulang2 hafalan quran lewat quran kecilnya itu bathin ku sambil sesekali melirik kearahnya, namun kali ini ada yang berbeda, kali ini aku tak mendengar suara lirihnya saat membaca Quran , Ya kutangkap ia sedang menangis, airmatanya basah melewati pipi nya yg mulus tanpa kosmetik, ada embun dibalik kacamatanya, persis tanpa suara ia menangis, aku pun trenyuh dibuatnya , “Kenapa, Ta ?” tanya ku , “aku sedih membaca arti surat Al muthafifin, rasanya sedih, aku jadi menangis” katanya tanpa melihat mataku , aku pun tersenyum “Subhanallah, smoga tangisan mu membuat Allah smakin sayang pada mu, Ta” ia terdiam sesaat dan seakan masih ingin menikmati airmatanya.

Rita, kehadirannya dikelas Sabtu pagi selalu membawa warna tersendiri, khususnya kelas sabtu pagi ku yang berisi 12 orang ini, kala yg lain sibuk dgn ketidaksiapan mereka menyetor hafalan Quran yg hrs disetor perpekan dgn saling mempersilahkan satu sama lain yg maju duluan , Rita maju lebih dahulu sebagai orang pertama yg menyetor hafalannya, disaat teman2 ku yang lain datang kesiangan dgn peluh bercucuran, Rita adalah orang pertama yg datang ke kelas jam 6 tepat tak pernah lewat ataupun ketinggalan , disaat yg lain bisa membagi cerita ttg kiat dan tips menghafal Quran, Rita asyik dgn Qurannya sendiri dipojok kelas itu selalu seakan enggan bercerita.

Hingga pada suatu hari kami berkesempatan melakukan kunjungan silaturahim ke rumah Guru Pembimbing kami bersama teman2 sekelas tentunya ,karena saat itu adalah pertemuan terakhir sebelum Midtest hafalan kami, Sang Guru memberikan masukan ttg evaluasi perkembangan hafalan masing2 siswa yang dirasa sangat menurun dgn semester2 sebelumnya, namun ia memberikan acungan jempol pd Rita atas semangatnya dlm menghafal yg tak pantang menyerah dgn keterbatasannya jatuh bangun dlm menghafal namun tetap konsisten utk selalu dtg tepat waktu, dan tak lelah apabila hrs mengulang 3 – 4 Kali surat Quran , saat ditanya apa tipsnya Rita menjawab dgn lugu “ kata mba Rida kl mo hafal harus 20 kali membacanya “ sambil menunduk malu. Sontak akupun kaget mendengarnya kapan ya aku mengatakan ihwal tips Quran pd Rita, aku jd teringat kala aku membacakan email pd teman sekelasku mba yayu dan kiki, ttg tipsmenghafal Quran, saat itu ruangan kelas sepi, aku tak menyadari ada Rita yg duduk di pojokkan kelas turut mendengarkan. Oh jadi selama ini mempraktekkannya tak disangka.

Sempat aku menceritakan tentang Rita pd teman ku yuli seorang ahli Therapis anak autis jebolan psikologi UI, pada dasarnya Yuli mengatakan bahwa Rita ada kecenderungan memiliki Austis, hal ini bisa dilihat dari beberapa perilakunya seperti sulit dalam berkomunikasi, suka menyendiri, kadang kesulitan utk melakukan kontak mata saat berbicara dgn lawan bicara,tidak spontan/reflek, dan kadang seringsulit mengubah rutinitas sehari2nya seperti mendengar dan membaca tdk bisa dilakukan dlm waktu yg bersamaan.

Aku jadi inget saat Rita bercerita pada aku dan mbak Yayu,saat dia ulangtahun dia tak lagi berteriak2 pada orangtuanya lagi ia berkata bahwa dia kini sudah besar jadi tak suka berteriak2 lagi , kami berdua pun tertawa mendengarnya ya, Rita skrg sudah besar 21 tahun kata mba yayu. Namun sepertinya komentar mbak yayu kurang ditanggapinya karena Rita kini sedang sibuk membuka Cokelat “silverqueen” kado ultah dari mbak Yayu. Dalam hati ku aku berdoa semoga Allah selalu menjagamu selalu, Rita.

Terimakasih Rita utk mengajarkanku bersyukur ditengah keterbatasan.

* 2 Ramadhan 1432 H