Innallaha ma ana

Seorang teman mengirimkan sebuah foto ini, yang sontak membuat mataku panas dan menyaksikan wajah kecil yang terpapang di monitor gadgetku ,  dari gambarnya yang kirimkan ia  menerangkan :

” Usianya baru 5thn , ibu, ayah dan saudara2nya tewas mengenaskan karena serangan bom Israel yang jatuh persis didepan bangunan rumahnya di pinggiran kota Gaza, Lirihnya ” Jadikanlah mereka syahid diJalan Mu ya Robbana” haru biru ia menahan agar tangisnya tak pecah.

Gaza sebuah kota dipalestina yang luluh lantak, wakil dari PBB yang pernah datang mengunjungi Gaza, kota ini tidak layak huni hingga 2020, embargo yang dilakukan oleh pihak Israel dan Amerika mengakibatkan lumpuhnya perekonomian disana. sektor2 pertanian pun lumpuh, tingkat pengangguran yang tinggi, belum lagi agresi militer yang dilakukan israel yang kerap memakan korban diantaranya sipil yang terdiri dari anak2 tak berdosa, wanita,orang tua yang sudah tak terhitung jumlah. menyumbangkan darahnya di kota Gaza tercinta, utk sejengkal tanah yg harus dipertahankan dibumi palestina, bumi para nabi, yang subur oleh darah para mujahid yang syahid membela tanah airnya.

“allahummanshur lil mujaahidiina fi filisthiiin ”

 

Iklan

Menu PMI setelah sedot darah

Kira kira apa yang tepat menggambar kan rasa ini , selain trenyuh dan usapan tangan ke dada, disertai gelengan kepala .bukan bermaksud utk mengharap lebih dari yang kita mampu berikan tapi kok rasanya aneh aja ya.

terakhir kali aku donor darah dari jaman baheula  sampai sekarang pun menu PMI itu pun ga pernah berusaha : Mie instan + telor rebus + susu/teh manis .

sepertinya harus ganti pengurus PMI agar menunya lebih variatif ya minimal peningkatan Gizi lah dari orang yang abis nyumbang dari ke PMI hehehe

Tarrrrrraaa ini dia penampakkannya  :

Foto diambil dari kosi 🙂

Lorong Rumah sakit

Angin sore dan langit gelap disapu daun daun kering yang jatuh mengantarkan ku ke bangunan besar bernama Rumahsakit ini, sore ini aku mengantar ibu ku ke rumahsakit karena ada tetangga yang stroke kemarin yang dirawat disini dan ini kali ke dua ibu menjenguknya , tadi malam  tepatnya dan karena berita td siang mengabarkan  Pak Mardjo demikian kami menyapanya , dia dikabarkan koma siang tadi.

lorong waktu

Sigap langkah ibuku seakan ingin memburu waktu, aku dibelakangnya  tertinggal langkah terbirit2  “lantai 6″ serunya kembali mengingatkan ku. sebelum masuk bangunan ini aku sempat berkata dalam hati semoga aku tidak akan pernah lagi dirawat disini lagi, dan semoga tidak pula dgn ortuku, kakak-ku, adik-ku, saudaraku, teman ku dan semua org yang kusayang kalau lah sakit atau harus dirawat semoga jangan di RS ini ” begitulah sungut hati ku

Hingga sampailah  Lift membawa  kami ke lantai 6, Ruang Teratai kelas 1 , lantai paling atas, lorong rumahsakit yang berwarna hijau lumut tanpa lengang oleh orang, namun tak kala ibu ku menoleh ke sebelah kiri lift dan aku pun mengikuti  nampak  pemandangan jajaran kursi panjang yang di isi 3 orang wanita terdengar isak tangis, Dia istri dari Pak Mardjo , Pasien dari RS ini.

singkat cerita keluarga menginginkan pengobatan yang terbaik utk Pak Mardjo dengan memindahkan kerumah sakit rujukan kantor dimana pak Mardjo bekerja, namun seperti biasa RS ini terlalu keukeuh  utk mempertahankan keberadaan pasien … oh lagi2 selalu begitu, ku dengar dari anak Pak Mardjo menuturkan keluhan ttg Rumahsakit kelas 1 dengan Perawat yang Jutek, Judes, kurang sensitive n bla bla … aku mendengarkannnya tanpa  tanya, ada apa, mengapa, bagiamana  … karena dia bercerita dengan linangan air mata dan tanpa pernah ku minta kacamataku sudah berembun menampung iba yang sama.

setelah debat yang lumayan alot akhirnya Pak Mardjo pun bisa di transfer ke rumahsakit rujukan kantor, Ibu ku menemani Bu Mardjo, dan keduanya saling berpelukkan menguatkan dgn linangan air mata penuh doa,  disampingnya  Pak Mardjo terkulai lemas dengan selang infusan, menahan sakit, entah apa yang dia rasa tapi yang ku tahu bagian tubuh sebelah kirinya tak bisa digerakkan lagi, dia ambruk kemarin Sabtu kala sedang memotong motong daging kambing Qurban  dimesjid  biasa tempat dia shalat.

Setelah shalat Ashar ,aku dan ibuku mengantarkan Pak Mardjo kedalam Ambulan disertai  Putrinya dan Bu Mardjo, menuju Rumah sakit Rujukan. kemudian ibuku bergegas menuju masjid yang masih berada dalam komplek Rumahsakit, melaksanakan Shalat Ashar. aku menunggunya dibawah sambil menggengam Quran teringat kembali 4 tahun yang lalu saat aku didorong diatas kursi roda melalui  lorong lorong rumahsakit ini menuju ruang operasi .. dan tak ingin ku ulangi lagi.