Lorong Rumah sakit

Angin sore dan langit gelap disapu daun daun kering yang jatuh mengantarkan ku ke bangunan besar bernama Rumahsakit ini, sore ini aku mengantar ibu ku ke rumahsakit karena ada tetangga yang stroke kemarin yang dirawat disini dan ini kali ke dua ibu menjenguknya , tadi malam  tepatnya dan karena berita td siang mengabarkan  Pak Mardjo demikian kami menyapanya , dia dikabarkan koma siang tadi.

lorong waktu

Sigap langkah ibuku seakan ingin memburu waktu, aku dibelakangnya  tertinggal langkah terbirit2  “lantai 6″ serunya kembali mengingatkan ku. sebelum masuk bangunan ini aku sempat berkata dalam hati semoga aku tidak akan pernah lagi dirawat disini lagi, dan semoga tidak pula dgn ortuku, kakak-ku, adik-ku, saudaraku, teman ku dan semua org yang kusayang kalau lah sakit atau harus dirawat semoga jangan di RS ini ” begitulah sungut hati ku

Hingga sampailah  Lift membawa  kami ke lantai 6, Ruang Teratai kelas 1 , lantai paling atas, lorong rumahsakit yang berwarna hijau lumut tanpa lengang oleh orang, namun tak kala ibu ku menoleh ke sebelah kiri lift dan aku pun mengikuti  nampak  pemandangan jajaran kursi panjang yang di isi 3 orang wanita terdengar isak tangis, Dia istri dari Pak Mardjo , Pasien dari RS ini.

singkat cerita keluarga menginginkan pengobatan yang terbaik utk Pak Mardjo dengan memindahkan kerumah sakit rujukan kantor dimana pak Mardjo bekerja, namun seperti biasa RS ini terlalu keukeuh  utk mempertahankan keberadaan pasien … oh lagi2 selalu begitu, ku dengar dari anak Pak Mardjo menuturkan keluhan ttg Rumahsakit kelas 1 dengan Perawat yang Jutek, Judes, kurang sensitive n bla bla … aku mendengarkannnya tanpa  tanya, ada apa, mengapa, bagiamana  … karena dia bercerita dengan linangan air mata dan tanpa pernah ku minta kacamataku sudah berembun menampung iba yang sama.

setelah debat yang lumayan alot akhirnya Pak Mardjo pun bisa di transfer ke rumahsakit rujukan kantor, Ibu ku menemani Bu Mardjo, dan keduanya saling berpelukkan menguatkan dgn linangan air mata penuh doa,  disampingnya  Pak Mardjo terkulai lemas dengan selang infusan, menahan sakit, entah apa yang dia rasa tapi yang ku tahu bagian tubuh sebelah kirinya tak bisa digerakkan lagi, dia ambruk kemarin Sabtu kala sedang memotong motong daging kambing Qurban  dimesjid  biasa tempat dia shalat.

Setelah shalat Ashar ,aku dan ibuku mengantarkan Pak Mardjo kedalam Ambulan disertai  Putrinya dan Bu Mardjo, menuju Rumah sakit Rujukan. kemudian ibuku bergegas menuju masjid yang masih berada dalam komplek Rumahsakit, melaksanakan Shalat Ashar. aku menunggunya dibawah sambil menggengam Quran teringat kembali 4 tahun yang lalu saat aku didorong diatas kursi roda melalui  lorong lorong rumahsakit ini menuju ruang operasi .. dan tak ingin ku ulangi lagi.

 

3 pemikiran pada “Lorong Rumah sakit

  1. MBa rida pernah..?

    kerasa banget pengalaman bolakbalik nemenin Bapak ke RS setahun lebih.
    pelayanan yg oke sama yg gak nya,

    titin yg rada pobi sma RS harus sok gagah, alhamd terlalui,
    semoga takkan kembali lagi ^^

Tinggalkan Balasan ke titantitin Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s