Keceplung Cita Cita

Matahari dan udara yang sejuk mengantarkan aku kerumahnya, sabtu pagi itu. aku sedang santai karena biasanya lepas dari rutinas sabtu setoran hafalan Quran di alhikmah aku akan berburu waktu utk mengaji di daerah kalibata, tapi hari itu, mengaji dipindah hari Ahad. jadi aku mengiyakan saja tawaran seorang teman utk berkunjung kerumahnya dibilangan mampang prapatan.

sungguhnya Yaa mengisi waktu dgn “rutinas sabtu yang tidak biasa” silaturahim ke teman yg 4 tahun belakangan ini ku kenal tapi kurang ku akrabi, jadi bolehlah hari ini aku bersantai atau sekedar mendengar cerita teman. Ada begitu banyak yang bisa dipetik ketika kita menjadi pendengar . Mendengar cerita orang lain seolah begitu kaya pengalaman.semakin banyak kita mendengarkan semakin terampil kita memahami kejadiaan .. ehmmmm

Benar saja tiba dirumahnya , sepi. Bapak dan ibu sedang pergi menunaikan ibadah haji, dan tinggalkan dia dirumah sendiri.

” Tak terbayang oleh ku mba, jadi dokter seperti sekarang ini” ujar Inez sambil menyuguhkan air botolan yang di ambil dari kulkas. memulai ceritanya

aku pun tertawa. tak kusangka gadis cerdas nan riang dihadapanku yang baru saja pulang dari PTT 2 bulan di halmahera setelah menyelesaikan kuliah nya di FKUI ternyata punya kisah kebimbangan juga.

“Ya, awalnya aku masuk ke FKUI krn kecemplung Taruhan Mba”, sambungnya menyembunyikan tawanya.

“dulu waktu aku SMA, ada Genk disekolah bernama “Sweetme “yang menyatakan diri bahwa mereka akan masuk FKUI, isi Genk itu adalah cewek2 cantik, gaul, pintar yang sombong banget. pokokenya mereka tuh alergi banget ma aku yang katanya cupu ini katanya aku ini ga ada bau2 nya utk masuk FKUI” ceritanya semangaat

“maka pada saat mengisi form aku sengaja memilih FKUI sebgai pilihan pertama, dan FK lainnya di kampus yang berbeda tapi msh di jawa ” sambungnya

“aku sich sempat ragu mba, apa bisa aku msk FKUI sementara kalo dilihat rangkingku dikelas ku masih kepala 3, maksudnya 32 .. padahal aku dah mati2 an belajar”

aku terbahak bahak mendengar penuturannya.

“Aku emang bodoh, Mba tapi aku ga pernah nyontek, mama ku bilang .. mama mah ga berharap banyak sama kamu, kamu naik kelas aja , mama dah bersyukur”

“Tuh kan, makanya setelah ku tuliskan nama FKUI di pilihan pertamaku semangat ku menggelora, bukan saja karena ingin membuktikan pada diriku sendiri aku bisa masuk UI, aku jg ingin membuktikannya pada Genk sweetme, pada ortu, mama khususnya ” jawabnya dgn mata menyala nyala

“aku jadi gila belajar, mba. aku lahap buku2 pelajaran, aku baca suplemen buku sakti pantang menyerah, yang biasanya les males2an sekarang waktu les adalah waktu yang paling ku tunggung utk bimbingan Pra UMPTN”

“hingga saat penentuan itu datang, namaku masuk sebagai penghuni FKUI aku girang bukan kepalang”  selorohnya sambil tertawa menutup multnya dgn jilbabnya

“yang bikin aku senang adalah bisa berjalan depan Genk Sweetme tanpa malu lagi karena tak satupun dari mereka yang diterima ” hahaha ucapnya.

“Tapi ternyata perjuangan bukan hanya utk membanggakan diri mba, tapi kita hrs menerima konsekuensi dari apa yang kita pilih, kalo dulu aku ingin masuk FKUI krn Prestise didepan teman2, sekarang setelah jadi Dokter walau masih umum, aku ingin jadi Dokter yang dpt hafal Quran dan yang dpt memberikan kontribusi bagi keberlangsungan umat ini ” singkat Innez menutup cerita hari itu

“Allah tidak akan mengubah nasih suatu kaum sampai kaum itu mengubah nasih mereka sendiri”

Qs an anfal (8):53

Aku mengenal innez sebagai sosok yang periang dan semangaat, lincah, pintar,humble dgn perawakan kecil yang kini telah menjadi seorang Dokter, setelah sempat vakum di kelas Tahfidz krn melaksanakan tugas PTT di luar daerah beberapa bulan, kini ia kembali lagi dengan semangat dan status yang baru 😀 , Innes telah  menerima proposal seorang pangeran untuk menjadi istrinya .

Barakallahu laka wabaraka alaika wa jama’a baina kumma fii khair Dr Innes

Innes N Rivki wedding

 

 

 

Belajar dari anak anak

Riuh rendah suara anak anak siang itu menemaniku aktivitas dirumah, ya rumah dimana aku tinggal memang banyak dengan anak anak kecil dari yg usia 3 , 4, 5, 6, 7 tahun berjumalah 5 orang itupun dan kadang jg masuk teras halaman rumahku yang berbatasan dengan ruang kerjaku.

dari celoteh cadel, triakan, jeritan, suara mereka menirukan sesuatu terekam dikepala ku, pun tanpa melihat aku sudah tahu siapa2 “tamu kecilku” yang singgah ke teras rumahku. dari sesama interaksi mereka, aku perhatikan mereka adalah “pekerja profesional” tak pernah lelah bermain, seolah mereka ingin menunjukkan dedikasi, semangat kerja serta tak merasa malu mengunggkapkan apa yang mereka alami.

anak anak

dari kiri ke kanan, Ita, Refi, Naya, Fahri, Risca

sedangkan pada kalangan dewasa rasanya nyaris sulit mencari pekerja yang profesional. kadang2 kita beralasan, sering lalai, cepat lelalh, pekerjaan belum selesai tapi ingin istirahat, bekerja tanpa semangat dan tanpa dedikasi yang jelas, malah tak jarang mengharap materi.

suatu hari aku terkesima melihat anak anak itu bertengkar dalam menyelesaikan masalahnya, berebut boneka, berebut siapa yg duluan mengambil sesuatu dsb, tapi mereka tidak butuh waktu lama untuk saling menyapa lagi dan kejadian yang baru saja terjadi. tak tampak dendam diantara mereka, apabila nota kesepakatan sudah dicapai dgn “menautkan kelingking kanan masing2” perdamaian tercapai,seolah mereka ingin menunjukkan bahwa mereka adalah mitra yang baik dan kompak dalam bekerja.

Subhanallah, sungguh luar biasa, meski kita mengganggap mereka anak kecil, namun nyatanya mereka berjuwa besar dan terlihat matang dibanding orang dewasa – yang berjiwa kerdil .

Jika berbicara ttg akal, orang dewasa memang lebih berakal dari anak anak. tapi sudahkah kita intropeksi dan memperbaiki kekeliruan yang ada? bekerjasama dengan profesional, tidak ada dendam, selalu berpikir positif dan saling memaafkan,

karena itu, jangan sepelekan anak kecil ya. karakter mereka murni dan jauh dari manipulasi justru merekalah bisa menjadi guru bagi kita, orang dewasa, untuk banyak belajar sabagaimana sesungguhnya karakter kita.

Rahasia Jodoh

Sungguh tiada yang mustahil bagi Allah apabila ingin menjadikan sesuatu terjadi “Kun fayakun” Jadi maka jadilah. tinggal bagaimana kita berdaya upaya untuk meraih cinta Allah semata.

setelah penantian sekian lama tibalah hari yang dinanti , Allah mengumpulkan keduanya dalam ikatan suci, mitsaqan ghaliza diusia yang tak lagi ranum , Allah lebih tahu yang terbaik dan yang dibutuhkan oleh hambanya.

Barakallahu laka wa baraka alaika wa bainakuma fii khair untuk Mba Wi dan Pak Tono.

Happy wedding mba wiek